Sekolahku bisa dibilang sangat unik. Kami tidak belajar terlalu formal di sana dan kami bisa pergi berjalan-jalan ke toko buku ataupun naik kereta ke Bogor, alih-alih duduk diam mendengarkan guru yang mengajar di depan kelas. Kami memang pernah duduk mendengarkan mentor kami bicara, tapi tidak dengan gaya kaku. Kami duduk dengan gaya lesehan di saung atau di depan komputer dan tertawa mendengarkan lelucon satu sama lain.
Tapi jangan dikira sehari-hari kami hanya bersenang-senang saja! Kami juga sibuk setiap pekannya. Kami harus menyelesaikan proyek-proyek sekolah yang sama uniknya dengan sistem pendidikannya sendiri.
Sekolah kami memberlakukan sistem belajar dengan tema (science, enterpreneurship, social, engineering, serta art and sport) yang bergantian diterapkan selama sebulan. Kami juga tidak lupa untuk tetap belajar Agama Islam, karena itulah semua murid mengikuti pelajaran tahfidz, tahsin, dan fikih setiap pagi selama lima hari.
Hari Senin biasanya kami diberitahukan mengenai kegiatan kami selama sepekan. Teori dasar ataupun perencanaan paling awal kami lakukan hari itu. Selanjutnya pada hari Selasa, kami mempersiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan untuk melaksanakan kegiatan pada hari Rabu. Hari Kamis, kami biasa melanjutkan kegiatan kami sebentar sebelum memulai pembuatan laporan yang kemudian akan kami presentasikan di hari Jumat.
Kebetulan, beberapa pekan yang lalu, aku dan temanku memilih untuk mendesain jaket anti peluru dengan bahan dasar kevlar. Sayangnya kami tidak benar-benar membuatnya. Tapi pekan ini, aku dan tiga orang teman sekelompokku memutuskan untuk membuat ponco anti api dengan memakai bahan yang sama. Aku terkagum-kagum pada bahan yang satu ini karena rupanya ia tak mudah ditembus air pula. Meski begitu, sebaiknya kevlar dijauhkan dari tempat-tempat yang lembab.
Jadilah aku kebagian tugas mendesain lagi kali ini. Dan karena kami berpikir bahwa kami bisa dibilang amatir dalam hal pembuatan safety equipment (tapi tentu saja selalu ada awal dari segala hal), kami sengaja membuat desain yang tidak rumit sehingga kami takkan kerepotan membuatnya. Desain yang kubuat sangatlah sederhana, tapi menghitung ukuran dan pemotongan bahannya memang cukup sulit. Bahan kevlar tidak mudah digunting, dirobek, ataupun ditembus oleh benda tajam (semakin tebal kevlar, maka semakin susah untuk mengoyaknya). Karena itulah bahan ini sangat cocok untuk dijadikan bahan anti peluru.
Sebelum membuat ponco anti api ini, kami sudah lebih dulu mencoba ketahanan kevlar pada api. Pertama-tama kami membakar kaos biasa, dan tentu api itu dengan sukses membuat lubang yang parah di permukaannya. Kemudian secarik kevlar pun dibakar, dan api tersebut tiba-tiba saja padam. Kevlar yang sudah tak terbakar itu berwarna hitam, seperti bahan apapun yang akan hangus terkena api. Namun ternyata warna hitam itu dapat dihilangkan dengan menggosokkan kevlar dengan kain! Warna hitam itu bukan bekas terbakar, tapi bekas asap yang menempel pada kevlar!
Mengingat kegunaannya, aku tidak heran kevlar dihargai Rp200.000 per meternya. Membuat suatu produk menggunakan kevlar sudah bisa dipastikan membuat produk yang mahal. Kalau ponco anti api kami hendak dijual, harganya kira-kira Rp465.000 dengan keuntungan yang tidak banyak. Dan perlu dicatat bahwa dengan harga tersebut, ponco anti api kami bukanlah yang terbaik kualitasnya. Bila kami jadi membuat jaket anti peluru, harganya akan mencapai jutaan rupiah (dan lagi-lagi ini bukanlah harga kualitas terbaiknya).
Untuk menambah kegunaan ponco anti api kami, diputuskanlah untuk memasangkan scotch light sticker di bagian lingkar tangan, di bahu, punggung, dan hood ponco. Kami senang sekali saat stiker tersebut menyala terang ketika terkena lampu blitz kamera. Memang kegunaan dari stiker ini adalah untuk membantu orang lain (seperti regu penyelamat atau pemadam kebakaran) melihat sang pemakai ponco di antara kobaran api. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk mencari lokasi keberadaannya dan menolongnya.
eh iya… ati2 yaa sama Kevlar…
karena banyak orang yg ternyata alergi sama si kevlar ini, jadi buntutnya gatel2 deeh…
sebelum dipake, kevlar ini sering dilapis terlebih dahulu oleh bahan pelapis seperti resin (biasanya dipake untuk otomotif, karena ringaaaan dan kuat).
keistimewaan kevlar ini, selain ringan, dalam industri otomotif adalah dia menyerap energi benturan, jadi either dia hancur jadi abu atau pecah kalau dia mendapat benturan keras… nah energi benturan itu dilepas oleh si kevlar, dan tidak diteruskan kepada si pengemudi dan penumpang.
itu sebabnya kevlar jarang dipakai dalam pembuatan body mobil produksi massal, namun lebih banyak dipakai dalam pembuatan body (dan parts lain) mobil2 kompetisi dan balap. soalnya kan lucu kalo mobil produksi massal seperti kijang innova bodynya hancur berantakan kalo tabrakan…
Oooh gitu .. oke, thx buat infonya
Ini bisa jadi masukan bwt proyek golf car. karena sempet ada ide untuk bikin body pke resin + kevlar ..
wah, lagi ada rencana bikin golf cart niiy?
kereeen… anything special about the golf cart?
critain dooong…