Dude, hari Jumat kemarin aku dapet mood yg lumayan enak .. entah kenapa rasanya ngga mau ngerusak suasana hati temen-temen yang lain .. dan kebetulan Tan Tan lagi ngga masuk, jadi berkurang deh criticism yang kudenger. hhe. Tapi repot juga ngga ada dia. Ngga ada lagi yang punya pemikiran terkonstruksi kya dia dalam kelompokku. Jadi rada bingung kalau mau ngelanjutin apa-apa .. rencana teraturnya kan cuma ada di otaknya. hahaha. Kehilangan dia satu hari aja rasanya kurang apaaa gitu. Dan aku agak khawatir juga karena katanya dia sakit ..
Hari itu, mestinya aku presentasi progress seperti biasa, tapi karena akhir-akhir ini pekerjaan yang harus dilakukan lebih banyak daripada laporan, jadi aku dan temen-temen ngelanjutin tugas divisi masing-masing dulu .. aku, Eko, sama Rafi akhirnya bikin prototype model chassis buatan kami pakai balok-balok kayu yang super panjang. Karena aku ngga suka cuma bantu ngukur dan megangin kayu aja, aku nyoba ikut ngegergaji dan maku! haha. Biarlah walau pun tanganku ngga sekuat cowok-cowok itu .. aku bisa kok. Cuma selesainya bisa sampai satu tahun. LOL
Kak Mira, mentorku yang tercinta, aku seret-seret seharian .. apapun yang dikerjain kelompokku harus diawasin dan dibimbing sama Kak Mira – menurut pikiranku yang manja. Karena aku sayang banget sama Kak Mira, jadi aku paling suka ngebodor kalau ada dia di sekitar .. dan seharian itu aku ketawa terus walau diejekin sama anak-anak cowok. Aku mau ngebayar mood jelekku di hari sebelumnya dengan perilaku yang bagus di hari Jumat ..
Yah pokoknya things are going really well half of the day. Begitu waktu salat Jumat masuk, anak-anak perempuan diajak ngumpul sama mentor buat diskusi. Tapi tumben hari itu level kami dipisah sama level-level lain .. dan kami pun duduk di saung dengan Kak Mira, menunggu bahasan apa lagi yang akan kami bicarakan saat itu. Terus suasana yang tadinya ceria berubah jadi sedikit tegang .. Kak Mira kelihatan ragu-ragu buat memulai pembicaraan dengan kami semua. Icah sibuk ngerajut, Sarah main HP, dan sisanya menunggu dengan gelisah.
“Sebelumnya, Kakak mau minta maaf sama kalian,” Kak Mira memulai dengan nada pelan yang membuat perutku serasa mencelos. “Kakak ngga bisa ngajar kalian lagi, mulai minggu depan .. ada persoalan keluarga yang harus kakak urus. Kalian dibimbing sama Kak Syami dan Kak Wanto dulu, ya?”
“Kenapa, Kak? Aduh, gimana dong kita kalau ngga ada Kak Mira? Nanti ngga ada lagi yang bisa diajak cerita-cerita ..” keluh kami semua. Sementara itu, Icah tetep ngelanjutin acara rajut-merajutnya dengan tampang datar.
“Kan ada Kak Emma, ada Kak Kiki .. bisa kok cerita sama mereka,” jawab Kak Mira, “Untuk sementara ini level 10 dan 11 gabung dulu sama Kak Syami. Kalau mau ngisengin orang, isengin aja Kak Wanto. Hehe. Mungkin nanti akan dicariin pengganti buat kakak ..”
“Tapi, tapi ..” aku bergerak-gerak tidak nyaman. Rasanya pengen banget ngungkapin perasaan dan kekhawatiran yang ada di pikiranku, tapi aku ngga bisa nemuin kalimat yang tepat. “Gimana dong, Kak Mira? Nanti ngga ada lagi yang .. ngga ada lagi yang .. aduuh! What can I do without you?” kataku agak lebay.
Kak Mira tertawa kecil. “Apa sih kamu, Fah? You can do lots of things!“
Aku ngga yakin. Aku bener-bener bingung waktu itu. Temen-temen juga mulai nanya, apa Kak Mira ngga akan ngajar lagi di sekolah kami? Dan dari respons beliau, kedengarannya memang begitu. Jadi ini adalah pukulan berat bagi kami, anak-anak perempuan. Karena saat ini kami sedang berada di tengah-tengah pengerjaan proyek besar dan kami sangat membutuhkan figur wanita yang dapat menjadi inspirasi, tempat menumpahkan pikiran dan perasaan, sekaligus yang bisa memberikan dorongan semangat juga pengertian pada kami.
“Maaf, ya? Sebetulnya kakak mau kasih tahu kalian soal ini kemarin .. tapi karena kalian dateng bawa kue .. haha. Kakak ngga tega,” lanjut Kak Mira yang berulang tahun hari Kamis lalu. “Kakak udah ngerencanain ini dari awal Januari, tapi pertimbangan kakak yang paling berat adalah ninggalin kalian.”
Aku mulai mengeluarkan suara-suara mengeluh yang tidak jelas (kebiasaanku kalau sedang gelisah) dan menundukkan kepalaku ke lantai saung seraya merentangkan kedua tanganku di samping kepala. Sengaja aku mengambil pose aneh seperti itu karena memang begitu gayaku. Dan aku mencoba untuk tenang. Kutarik nafas pelan-pelan, lalu kubuang. Aku terus melakukan itu sambil mendengarkan percakapan teman-teman dengan Kak Mira. Aku mencerna setiap kalimat yang mereka katakan dan berpikir cepat untuk bereaksi sewajarnya.
Begitu kurasa cukup, aku tegakkan kepalaku dan kutatap Kak Mira. Saat itu, Icah yang sejak tadi bersikap biasa, sedang membenamkan wajahnya di pangkuan Kak Mira. Pundaknya naik turun, tanda menangis sesenggukkan.
“Yah, Icah .. Jangan nangis dong!” kata Sarah yang wajahnnya sudah memerah. “Haduh, Icah .. orang aku udah berusaha buat ngga nangis, kok kau malah nangis sih?” tambahku.
Karena suasana sudah terlanjur biru, dan kami dapat melihat dengan jelas mata Kak Mira yang berkaca-kaca, akhirnya kami semua pun mengangis. Aku merunduk lagi, meletakkan kepalaku di belakang Icah sementara Sarah bersandar padaku. Bida dan Thifal juga menangis, tapi tidak sebanyak kami. Mereka menghadapi persoalan ini dengan kepala dingin. Memang selalu realistis cara pandang dua bersaudara itu ..
Mungkin kedengarannya berlebihan, ya? Tapi kami punya banyak alasan untuk menangisi hal ini. Bukan karena kami adalah sekumpulan anak-anak cengeng .. ini semua lebih karena kami tidak rela kehilangan Kak Mira. Ini karena kami tak suka ide melanjutkan proyek tanpa Kak Mira di sisi kami. Ini karena besarnya perhatian dan kasih sayang yang Kak Mira berikan pada kami, yang belum sempat kami bayar ataupun kami ungkapkan dengan gamblang .. Ini untuk setiap nasihat dan perkataannya yang menguatkan hati, yang membuat kami merasa dihargai. Untuknya yang tak pernah mengabaikan kami. Untuknya yang tidak pernah menampakkan kebosanan dan rasa letihnya dalam menghadapi kemanjaan dan segala rajukan kami .. Yang tersenyum untuk menghapus kesedihan kami ..
Sebelumnya, Icah sudah pernah kehilangan mentor-mentor terbaik yang pernah dimilikinya. Dan sekarang ia harus kehilangan seorang lagi. Sementara itu, pada Kak Mira, aku menemukan sosok yang dapat mengerti betapa rumitnya pemikiran-pemikiran dalam otakku dan memahami pandangan serta segala teori-teoriku yang biasanya disangsikan orang lain karena keluar dari mulutku ..
Aku tak tahu bagaimana pandangan anak-anak yang lain mengenai Kak Mira. Tak tahulah bagaimana perasaan mereka yang sesungguhnya mengenai hal ini. Tapi aku yakin mereka merasakan kehilangan, atau sedikitnya sebersit rasa kecewa. Karena selama 16 tahun hidupku, Kak Mira adalah salah satu sosok pribadi terbaik yang pernah kukenal. Yang aku hormati dan hargai, aku sayangi dan akan kuingat hingga akhir nanti ..
Maka sepulang sekolah, aku meyakinkan Kak Mira untuk pergi menengok Tania yang sedang sakit. Aku katakan pada Kak Mira bahwa anak itu akan sangat sedih apabila tidak diberitahukan mengenai kepergiannya. Tapi yang menarik adalah usaha Kak Mira untuk mengajak serta Kak Kiki .. mungkin untuk memberi gambaran pada Kak Kiki tentang anak-anak binaannya. Mungkin karena kami akan dititipkan pada Kak Kiki setelah ini.
Tania sendiri mengaku sedih dengan keputusan Kak Mira, tapi ia tak menunjukkan ekspresi sedih sedikit pun. Tapi aku kenal dia dan aku tahu ia tidak benar-benar menganggap enteng hal ini. Dan ketika kami pamit untuk pulang, Tania pun terus berdiri di depan pintu rumah dan menatap punggung Kak Mira yang berjalan pergi. Ia tak menutup pintunya hingga kami benar-benar jauh. Aku sendiri terus menggandeng tangan Kak Mira sepanjang perjalanan.
“Udah pernah foto bareng Kak Mira belum?” tanya Kak Kiki padaku.
Aku segera mengambil HP dan meminta Kak Kiki memotretku berdua dengan Kak Mira. Setelah itu Sarah, Icah, Bida, Mia, Nafi, dan Zurai pun ikut berfoto ria. Kami tidak peduli pada siapapun yang memandang aneh pada kami karena berfoto-foto di dalam perumahan (kaya ngga pernah jalan-jalan ke tempat bagus aja) .. Kami senang karena sempat mengambil 7 foto, meski 2 darinya tak sengaja terhapus.

Bagaimana pun juga, kami ngga akan menyerah mengerjakan apa yang sudah kami mulai, walau harus tanpa adanya Kak Mira untuk mendukung! Kami sudah berjalan sejauh ini .. ngga ada alasan untuk mundur kecuali proyek ini tidak mungkin bisa kami lakukan. Ngga ada alasan untuk mundur, apalagi kalau harga diri kami disamakan dengan uang Rp1000 saja. Dan kenyataannya semakin buruk karena lembaran seribu rupiah itu sudah robek jadi dua* ..
Jadi untuk Kak Mira: Tenang aja, Kak! Kami memang lamban dalam bergerak .. mungkin juga agak lama dipanasin sebelum bisa jalan dengan stabil. Tapi kami akan berusaha untuk menjadi orang yang lebih dewasa, lebih tegar dan lebih disiplin. Kami akan mencoba untuk terus maju. Berusaha sebaik yang kami bisa.
Kami doakan kemudahan bagimu dalam menyelesaikan persoalan mendesak itu. Insya Allah akan selalu diberikan jalan dan balasan yang indah bagi orang-orang dengan ketulusan sepertimu .. Amin.
FIGHTING!!
*] Bagi yang bingung soal uang Rp1000 itu .. kami sempat mengumpulkan uang sejumlah itu dari masing-masing anggota untuk disimpan oleh mentor kami sebagai jaminan bahwa kami tidak akan mundur dari proyek pembuatan electric golf cart ini. Dan uang tsb dimisalkan sebagai harga diri kami. Apabila kami menyerah, uang itu tak akan dikembalikan pada kami – meski hanya sobekannya saja.